

- Candi
Kidal
- Candi
Jago
- Candi
Panataran
- Candi
Dieng
- Candi
Pawon
- Candi
Cetho
- Candi Asu
- Candi
Boko
- Candi
Sambisari
- Candi
Tikus
- Candi
Plaosan
- Candi
Barong
- Candi
Jabung
- Candi
Bajangratu
- Candi
Rimbi
- Candi Sawentar
BOROBUDUR, Monumen yang
sangat impressive dan berasal dari jaman Dinasi Syailendra ini
bukan merupakan candi, melainkan merupakan gundukan tanah didalam
tumpukan batu. Ini adalah potret batu dari Budha Mahayana cosmic
system. Berdasarkan atas tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup
dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal
dari huruf pallawa.

Maka diperkirakan tahun berdirinya Candi tersebut, yaitu pada tahun
sebelum 850 Masehi, pada waktu pulau Jawa dikuasai oleh keluarga
raja-raja Sailendra antara tahun 832-900.
Jadi umurnya sudah lebih dari 1.100 tahun dan lebih tua sekitar 300
tahun dari Candi Angkor Wat di Kambodja. Candi ini terdiri dari 2
juta bongkah batu dan mencapai 60.000 cubic meter, sebagian
merupakan dinding-dinding berupa relief yang mengisahkan
ajaran Mahayana. Ukuran sisi-sisinya 123 meter, sedang tingginya
termasuk puncak stupa yang sudah tidak ada karena disambar petir 42
m. Yang ada sekarang tingginya tinggal 34,5 m.

Penemuan BOROBUDUR
Tidak pernah terlintas oleh Pemerintah Hindia Belanda bahwa suatu ketika Nusantara ini akan dikuasai oleh Inggris. Gubernur Jenderal yang mengurusi masalah tanah jajahan di Timur, Lord Minto harus mendelegasikan kekuasaan di Nusantara ini kepada Letnan Gubernur Jendral Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap budaya timur, sehingga ketika pada tahun 1814 mendapat laporan tentang ditemukannya reruntuhan yang diperkirakan candi, segera mengutus perwira zeni HC Cornelius untuk ke Bumi Segoro.

Itulah awal diketemukannya Borobudur yang terpendam
entah sejak kapan dan apa penyebabnya. Misteri yang sampai kini
belum terungkap.

Sayang, tahun 1815 Inggris harus angkat kaki dan mengembalikan tanah
jajahan kepada Belanda. Bagi Belanda, peninggalan sejarah juga tidak
kurang menariknya. Pada 1834 Residen Kedu bernama Hartman yang baru
dua tahun menduduki jabatan mengusahakan pembersihan Borobudur.
Stupa yang ternyata puncak candi diketahui sudah menganga sejak
ditangani Cornelius 20 tahun sebelumnya..

Selama kurun waktu 20 tahun itu tidak ada yang bertanggung jawab
terhadap kawasan penemuan. Pada tahun 1842 Hartman melakukan
penelitian pada stupa induk. Dalam budaya agama Buddha, stupa
didirikan untuk menyimpan relik Buddha atau relik para siswa
Buddha yang telah mencapai kesucian. Dalam bahasa agama, relik
disebut saririka dhatu, diambil dari sisa jasmani yang berupa
kristal selesai dilaksanakan kremasi. Bila belum mencapai kesucian,
sisa jasmani tidak berbentuk kristal dan tidak diambil. Bila berupa
kristal akan diambil dan ditempatkan di dalam stupa. Diyakini bahwa
relik ini mempunyai getaran suci yang mengarahkan pada perbuatan
baik. Pada setiap upacara Waisak, relik ini juga dibawa dalam
prosesi dari Mendut ke Borobudur untuk ditempatkan pada altar utama
di Pelataran Barat. Relik yang seharusnya berada di dalam stupa
induk Borobudur hingga kini tidak diketahui siapa yang mengambil dan
di mana disimpan.

Demikianlah, Borobudur yang ditemukan pada tahun 1814 mulai
ditangani di bawah perintah Hartman antara lain dengan mendatangkan
fotografer, pada tahun 1845 bernama Schaefer, namun hasilnya tidak
memuaskan. Itulah sebabnya pada tahun 1849 diambil keputusan untuk
menggambar saja bangunan Borobudur. Tugas mana dipercayakan pada FC
Wilsen yang berhasilkan menyelesaikan 476 gambar dalam waktu 4 tahun.
Ada seorang lagi yang ditugaskan untuk membuat uraian tentang
Borobudur yang masih berupa duga-duga, yaitu Brumund. Hasil Wilson
maupun Brumund diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda kepada
Leemans pada 1853 yang baru berhasil menyelesaikannya pada 1873 .
Selama penggarapan gambar yang duga-duga itu, oleh Hartman
Borobudur dijadikan tempat rekreasi. Pada puncaknya didirikan
bangunan untuk melihat keindahan alam sambil minum teh. Pembersihan
batu-batuan terus berlangsung, ditempel-tempel asal jadi menurut
dugaan asal-asalan saja.

Anugerah untuk Raja
Borobudur dibersihkan dari hari ke hari, hingga makin menarik.
Sungguh fantastis bagi para penguasa Belanda menikmati pemandangan
indah di atas bangunan kuno yang sedemikian besar.
Pada tahun 1896, Raja Thai, Chulalongkorn datang ke Hindia Belanda.
Sebagai penganut agama Buddha tentu tidak akan
melewatkan untuk menyaksikan bangunan stupa yang
didengung-dengungkan oleh para pejabat pemerintah kolonial. Entah
bagaimana ceriteranya, Pemerintah Belanda menawarkan Raja untuk
membawa bagian dari batu-batuan Borobudur. Menurut catatan tidak
kurang dari 8 gerobak melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Diantara yang diangkut ke Negara Gajah Putih tersebut ada 30 lempeng
relief dinding candi, 5 buah patung Buddha, 2 patung singa dan 1
pancuran makara.
Bilamana kita berada di istana Raja Bhumibol Adulyagej kita dapat
saksikan batu-batuan Borobudur yang terawat baik hingga kini.
Sebagai negara yang sebagian besar menganut Buddha, rakyat
menyampaikan hormat dihadapan patung Buddha asal Borobudur
sebagai lambang kebesaran Gurunya.
Jadi, jauh sebelum batu-batuan Borobudur ditempatkan sebagaimana
mestinya, bagian dari batu-batuan yang berada dalam istana dynasti
Cakri telah diperlakukan dengan baik, karena keluarga raja di sana
mengerti simbol-simbol yang terkandung dalam bagian kecil
peninggalan agama yang dianutnya.

Pemugaran
Pada tahun 1882 ada usul untuk membongkar seluruh batu-batuan
Borobudur untuk ditempatkan dalam suatu museum. Usul ini tidak
disetujui, bahkan mendorong usaha untuk membangun kembali reruntuhan
hingga berbentuk candi. Dorongan lain untuk lebih membuka tabir
misteri dalah diketemukannya satu lantai lagi dibawah lantai pertama
candi oleh Vzerman pada 1885.
Pada tahun 1900 dibentuklah Panitia Khusus perencanaan pemugaran
Candi Borobudur. Setelah bekerja dua tahun, maka Panitia
menyimpulkan bahwa tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemugaran
yaitu:
Pertama : segera diusahakan
penaggulangan bahaya runtuh yang sudah mendesak dengan cara
memperkokoh sudut-sudut bangunan, menegakkan kembali dinding-dinding
yang miring pada tingkat pertama, memperbaiki gapura-gapura, relung
serta stupa, termasuk stupa induk.
Kedua : mengekalkan
keadaan yang sudah diperbaiki dengan cara mengadakan pengawasan yang
ketat dan tepat, menyempurnakan saluran air dengan jalan memperbaiki
lantai-lantai serta lorong-lorong.
Ketiga : menampilkan
candi dalam keadaan bersih dan utuh dengan jalan menyingkirkan semua
batu-batuan yang lepas untuk dipasang kembali serta menyingkirkan
semua bangunan tambahan.
Pada tahun 1905 keluarlah Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda yang
menyetujui usul Panitia dengan penyediaan dana sebesar 48.800 gulden
untuk menunjuk Insinyur zeni T.van Erp.
Pemugaran dimulai pada Agustus 1907 yang berhasil diselesaikan pada
tahun 1911. Dengan demikian, Borobudur dapat dinikmati keindahannya
secara utuh.

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1948 Pemerintah RI yang
masih dalam penataan negara memperhatikan kerusakan Borobudur yang
sudah diketahui sejak 1929 dengan mendatangkan dua orang ahli
purbakala dari India. Sayang usaha ini tidak ada kelanjutannya. Pada
tahun 1955 pemerintah RI mengajukan permintaan bantuan kepada Unesco
untuk menyelamatkan berbagai candi di Jawa, tidak terkecuali
Borobudur . Usaha lebih mantap baru dimulai pada tahun 1960 yang
terhenti karena pemberontakan G.30.S/PKI ketika bangsa dan negara
mengkonsentrasikan diri menyelematkan masa depan yang hampir saja
dikoyak komunis.
Pemugaran candi secara serius baru terlaksana pada masa Orde Baru,
melalui SK Presiden RI No.217 tahun 1968 tanggal 4 Juli 1968
dibentuk Panitia Nasional yang bertugas mengumpulkan dana dan
melaksanakan pemugaran. Tahun berikutnya Presiden membubarkan
Panitia tersebut dan membebankan tugas pemugaran kepada Menteri
Perhubungan.
Tahun 1973 diresmikan permulaan pemugaran yang selesai pada tanggal
23 Februari 1983. Usaha penyelamatan ini adalah yang paling
mantap dalam sejarah perawatan Borobudur .
Candi itu mempunyai 9 tingkat, yaitu : 6 tingkat di bawah,: "tiap
sisinya agak menonjol berliku-liku, sehingga memberi kesan bersudut
banyak. 3 tingkat diatasnya:'' berbentuk lingkaran. Dan yang paling
atas yang disebut sebagai tingkat ke-10 adalah stupa besar ukuran
diameternya 9,90 m, tinggi 7 m.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang yang dulunya dipakai sebagai
tempat memuja seperti candi-candi lainnya. Yang ada ialah
lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit, kedua tepinya
dibatasi oleh dinding candi, mengelilingi candi tingkat demi tingkat.
Dari satu tingkat lainnya di empat penjuru terdapat pintu gerbang
masuk ke tingkat lainnya melalui tangga. Di lorong-lorong inilah
para umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki
mengelilingi candi ke arah kanan. Upacara itu disebut pradaksima

Tingkat-10
Sejarawan Belanda Dr. J.G. Casparis dalam desertasinya untuk
mendapat gelar doctor pada tahun. 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur
yang bertingkat 10 menggambarkan secara jelas terlihat filsafat
agama Buddha Mahayana yang disebut “Dasabodhisatwabhumi”.
Filsafat itu mengajarkan, bahwa setiap orang yang ingin mencapai
tingkat kedudukan sebagai Buddha harus melampaui 10 tingkatan
Bodhisatwa. Apabila telah melampaui 10 tingkat itu, maka manusia
akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.
Dr. J. G. Casparis berpendapat, bahwa sebenarnya Borobudur merupakan
tempat pemujaan nenek moyang raja-raja Sailendra, agar nenek moyang
mencapai ke-Buddhaan. Sepuluh tingkat Borobudur itu juga
melambangkan, bahwa nenek moyang raja Sailendra yang mendirikan
Borobudur itu berjumlah 10 orang. Berdasarkan prasasti Karangtengah
bertahun 824 M dan prasati Kahulunan bertahun 824 M. Dr. J.G.
Casparis berpendapat bahwa pendiri Borobudur adalah raja Sailendra
bernama Samaratungga, kira-kira disekitar tahun 824. Bangunan
raksasa itu kiranya baru dapat diselesaikan oleh puterinya yaitu
Ratu Pramodawardhani.
Dalam hal tersebut para ahli belum terdapat kata sepakat.

Tingkatan –Tingkatan Borobudur
Pada tahun 1929 Prof. Dr. W.F. Stutterheim telah mengemukakan
teorinya, bahwa Candi Borobudur itu hakekatnya merupakan “tiruan”
dari alam semsta yang menurut ajaran Buddha terdiri atas 3 bagian
besar, yaitu: (1). Kamadhatu; (2). Rupadhatu; dan (3). Arupadhatu.
Bagian “kaki” melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih
dikuasai oleh kama atau nafsu (keinginan) yang rendah, yaitu dunia
manusia biasa seperti dunia kita ini.
Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan
nafsu, tetapi maish terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya
orang suci dan merupakan “alam antara” yang memisahkan “alam bawah”
(kamadhatu) dengan “alam atas” (arupadhatu).
Arupadhatu, yaitu “alam atas” atau nirwana, tempat para Buddha bersemayam, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, tidak ber-relief.
Patung-patung Dhayani Buddha
Pada bagian Rupadhatu patung Dhayani Buddha digambarkan terbuka,
ditempatka di lubang dinding seperti di jendela terbuka. Tetapi
dibagian Arupadhatu patung-patung itu ditempatkan di dalam stupa
yang ditutup berlubang-lubang seperti didalam kurungan. Dari luar
masih tampak patung-patung itu samar-samar.
Cara penempatan patung seperti tersebut rupanya dimaksudkan oelh
penciptanya untuk melukiskan wujud samar-samar “antara ada dan tiada”
sebagai suatu peralihan makna antra Rupadhatu dan Arupadhatu.
Arupa yang artinya tidak berupa atau tidak berwujud sepenuhnya baru
tercapai pada puncak dan pusat candi itu yaitu stupa terbesar
dan tertinggi yang digambarkan polos (tanpa lubang-lubang), sehingga
patung didalamnya sama sekali tidak tampak.
Stupa-stupa kurungan patung-patung di bagian Arupadhatu yang bawah
bergaris miring, sedang lubang-lubang seperti yang diatasnya
bergaris tegak.
Menurut almarhum Prof. Dr. Sucipta Wirjosaputro lubang-lubang
seperti tersebut merupakan lambang tentang proses tingkat-tingkat
lenyapnya sisa nafsu yang terakhir.
Lubang-lubang yang bergaris miring (lebih rendah dari lainnya)
menggambarkan, bahwa di tingkat itu masih ada sisa-sisa dari nafsu,
sedang pada tingkat di atasnya yang bergaris tegak menggambarkan
nafsu itu telah terkikis habis, dan hati pun telah lurus.
Pada tahun 1814 Sir Thomas Stanford Raffles menggali candi yang
terkubur berabad abad ini. Restorasi secara besar-besaran dilakukan
dari tahun 1905 sampai 1910 dipimpin Dr.Tb. van Erp. Restorasi
susulan dibantu oleh UNESCO sampai pada tahun 1983.

Pada hakekatnya Borobudur itu berbentuk stupa, yaitu bangunan suci
agama Buddha yang dalam bentuk aslinya merupakan kubah (separoh
bola) yang berdiri atas alas dasar dan diberi payung di atasnya.
Relief pada dinding-dinding candi Borobudur itu menurut Drs.
Moehkardi dalam majalah Intisari jumlahnya ada 1460 adegan menghias
candi Brobudur, tiap relief menggambarkan ceritera kehidupan Buddha
Gautama, sedang relief yang merupakan dekoratief (hiasan) ada 1212
buah. Panjang relief itu kalau disambung-sambung seluruhnya dapat
mencapai 2.900 m, jadi hampir 3 km. Jumlah arcanya ada
505 buah, terdiri dari : -Tingkat ke-1 Rupadhatu ditempat arca-arca
Manushi Budha sebanyak 92 buah; -Tiga tingkat selebihnya
masing-masing mempunyai 92 buah arca Dhyani Buddha; -Tingkat di
atasnya mempunyai 64 arca Dhyani Buddha.
Selanjutnya di tingkat Arupadhatu terdapat pula arca-arca Dhyani
Buddha yang dikurung dalam stupa, terletak pada tingkatan yang
berbentul lingkaran dan masing-masing tingkat sebanyak : 32, 24 dan
16 sejumlah 72 buah.
Akhirnya di stupa induk paling atas, dahulunya terdapat pula sebuah
patung Sang Adhi Buddha, yaitu Buddha tertinggi dalam agama Buddha
Mahaya. Maka julah seluruhnya adalah 3 x 92 buah jumlah 432 + 64 + 1
= 505 buah.
Permainan angka yang mengagumkan.
Drs. Moehkardi mengemukakan adanya permainan angka dalam Candi
Borobudur yang juga amat mengagumkan, sebagai berikut :
Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung)
adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu
4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8.
Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m;
masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa
tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m;
1,8m; 1,7m.
Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan
angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa
itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1
melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha.
Perhatikan bukti-buktinya dibawah ini :
Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila
dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang
didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka
73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10.
Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila
angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga
seperti diatas 1 + 0 = 1.
Sang Adhi Buddha dalam agama Buddha Mahaya tidak saja dianggap
sebagai Buddha tertinggi, tetapi juga dianggap sebagai Asal
dari segala Asal, dan juga asal dari keenam Dhyani Buddha, karenanya
ia disebut sebagai “Yang Maha Esa”.
Demikianlah keindahan Borobudur sebagai yang terlihat dan yang
terasakan, mengandung filsafat tinggi seperti yang tersimpan dalam
sanubari bangsa Timur, khususnya bangsa kita.