Candi merupakan Monumen Budaya yang masih ada sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pola kehidupan masyarakat Jawa masa lalu. UNESCO sudah memasukan Candi sebagai warisan Budaya Dunia.
Membaca
Ulang Claire Holt
Seno Joko Suyono
DI bulan Oktober tahun 1970, Ben Anderson menulis sebuah obituari
yang menyentuh mengenang kepergian koleganya di Indonesian Modern
Cornell Project, Claire Holt.
SAYA ingat, di suatu sore tahun 1968, saat saya baru pulang dari
Indonesia, saya bercerita kepadanya tentang seorang sahabat kami
berdua, seorang empu gamelan di Jawa, yang merasa hari kematiannya
sudah dekat, kemudian berusaha menjauhkan dirinya dari segala
sesuatu yang dicintainya: barang-barang pribadinya, keluarganya,
musik di mana ia mengabdikan diri seumur hidupnya. Imajinasi Claire
Holt tampak terserap jauh ke sahabat kami dari Jawa itu,
membayangkan bagaimana dia menyiapkan diri menghadapi maut dan
tiba-tiba Holt mengatakan bahwa dirinya juga mungkin bila saatnya
tiba, akan juga berlaku seperti itu.
Kita tak tahu, apakah Holt menjelang ajalnya benar-benar menyiapkan
diri- sumeleh ala kebajikan mistik Jawa itu. Claire Holt wafat tahun
1970. Ia meninggalkan "Art in Indonesia: Continuities and Change
(1967)". Sebuah karya yang boleh dibilang magnum opus. Berbeda
dengan peneliti lain, dia juga seorang fotografer, etnolog tari,
arkeolog, pematung, sekaligus traveler. Minatnya yang luas itu,
menurut hemat saya, sangat mempengaruhi caranya menulis.
Bukunya bukan jenis traktat akademis yang kaku, sistematik, kering.
Tapi sebagaimana hatinya tergetar pada sikap temannya menyongsong
elmaut tadi, ia menulis dengan empati yang dalam. Ia terlihat peka
pada detail. Bila ia menerangkan relief balustrade candi misalnya,
dengan rinci ia dapat memaparkan gaya, ornamen-ornamen flora,
bentuk-bentuk pilaster, ceruk-ceruknya. Ia seakan mampu menangkap
hal-hal kecil yang tak terlihat orang. Perbandingan atas hal satu
dan lain kadang mengagetkan, melayangkan imajinasi .
Holt tinggal di Jawa dan Bali, di tahun 30an, saat era romantis bagi
para peneliti bohemian, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet,
Covarubias, Margaret Mead, Jaap Kunst, Th Pigeaud, Colin Mcphee,
Mantle Hood. Minat awal Holt terhadap Indonesia seperti ditulisnya
di majalah Indonesia No 6 (Oktober) 1968, dipicu oleh Robert Heine-Geldern,
seorang antropolog yang memiliki data-data luas tentang kebudayaan
perunggu di Jawa, kebudayaan megalitik di Nias yang bekerja di
American Museum of Natural History di New York. Bersama dengannya
dan Margaret Mead, Holt mendirikan the East Indies Institute of
Amerika.
Holt selanjutnya menjadi asisten Wilhelm Stutterheim, peneliti
Borobudur, Prambanan. Holt juga terlibat sebuah ekspedisi bersama
seorang dokumentator asal Swedia, Rolf de Mare, pendiri Archives
Internationales de la Danse di Paris, untuk perekaman tari-tarian
Indonesia. Itu membuatnya ke penjuru pelosok Nusantara, membuat film
dokumenter. Tim ini juga mengumpulkan lebih dua ratus sketsa, kostum
tari, topeng, instrumen musik tari untuk koleksi museum.
Pada tahun 1939 koleksi ini dipamerkan. Tahun itu juga, Archives
menerbitkan tulisan Holt: Dance Quest in Celebest. Dilengkapi lebih
dari seratus foto. Karena Perang Dunia 2, Archives dipindahkan dari
Paris ke Stockholm, Swedia. Dan, seluruh koleksi topeng, fotografi
dan film yang dikerjakan oleh Holt itu konon sampai sekarang masih
bisa dinikmati di Drottningholm Theater Libarary, Stockholm, Swedia.
Catatan perjalanan Holt setelah ia wafat tahun 72-an diterbitkan di
majalah Indonesia. Antara lain: Dances of Sumatra and Nias, Batak
Dances, Dances of Minangkabau.
Fokus utama Art in Indonesia adalah melacak benang-benang utama
kontinuitas, diskontinuitas, perubahan-perubahan gaya atau
perasaan-perasaan dalam struktur sejarah seni di Indonesia. Dari
masa prasejarah sampai seni Indonesia modern. Satu hal yang harus
dipegang, proses dinamika sejarah kesenian Indonesia bagi Holt
adalah semacam proses osmosis kebudayaan yang terus-menerus. Istilah
osmosis itu juga digunakan oleh Denys Lombard, dalam karya
monumentalnya: Nusa Jawa: Silang Budaya. Untuk kasus di Indonesia,
demikian Lombard, kita tak bisa memakai perspektif dialektika dalam
pengertian Hegelian. Karena di situ pasti ada unsur aufgehebung,
kebudayaan pemenangnya. Yang terjadi dalam sejarah seni di sini
adalah suatu proses saling perembesan kultur, bukan dialektika.
Suatu kegiatan saling serap antara warisan-warisan lokal dan
pengaruhnya, yang membuat terjadi mutasi terus-menerus, baik saat
Indonesia masa kuno maupun Indonesia modern.
Tentu saja data-data Indonesia modern yang disajikan Holt hanya
terbatas sampai tahun 1970. Namun, Holt bisa memberikan dasar
bagaimana cara membaca mutasi itu. Adakah suatu pembaruan kesenian
itu masih ada kesinambungan dengan yang lama atau sepenuhnya
merupakan ketidaksinambungan? Di situlah saya kira letak penting
Holt. Holt sendiri secara panjang lebar mendeskripsikan proses
osmosis itu terjadi pada tiga tataran, yaitu arkeologi, tari, dan
seni rupa.
Ganesha, sebuah contoh adaptasi
Untuk arkeologi dan tari, izinkan saya mula-mula mengutip ucapan
Rabindranath Tagore yang datang ke Jawa dan Bali pada tahun 1927.
Kedatangan Tagore itu atas usaha Noto Soeroto, penyair, cucu
Pakualam V yang tinggal di Den Haag. Tagore, seperti disitir Holt
setelah menonton berbagai pertunjukan tari di Jogja dan Bali,
berkomentar demikian, "Saya melihat India di mana saja, tapi saya
tak mengenalnya." Pendiri Shantiniketan itu dengan kata lain
terpesona atas kemampuan adaptasi tinggi di Jawa dan Bali atas
sumber-sumber India.
Tak syak memang ada suatu masa, kesenian kita mendapat pengaruh
India yang kental. Candi-candi Jawa Tengah masa abad ke-8 sampai
ke-10 adalah bukti itu. Holt menduga proses Hinduisasi berjalan
pelan-pelan, kompleks dan tidak ajeg. Sampai kini belum ada evidensi
arkeologis yang tergali begitu jauh untuk mengetahui evolusi lambat
seni India di Jawa. Tiba-tiba sekonyong-konyong candi-candi itu ada,
muncul dengan kekayaan yang mendadak. Semua arkeolog setuju
bentuk-bentuk candi Jawa Tengah didesain mengikuti aturan yang
berasal dari arsitektur kuil-kuil India Barat, terutama di daerah
Nalanda. Ada pertalian dekat, kesamaan gaya, simbolisme, bentuk,
rincian. Tapi, Holt menunjukkan, bagaimana sedemikian rupa Prambanan,
Borobudur, dan Mendut mengalami modifikasi-modifikasi prinsipiil.
Terdapat ciri-ciri di candi-candi itu yang tidak ada di India. Salah
satunya yang mencolok adalah patung-patung disusun dengan cermat ke
dalam ceruk-ceruk, ruang-ruang yang dibagi-bagi secara simetris.
Kita bisa melihat di Borobudur bagaimana figur manusia dimasukkan di
dalam kerangka yang dibatasi oleh panel-panel. Proporsi-proporsi
dipertahankan dalam keseimbangan, tanpa kontras yang keras dalam
ukuran. Ornamen tak bakal mengungguli bangunan. Istilah Holt di
situ, ketidakkeruan kontras yang bebas tidak diperkenankan.
Di India, sebaliknya, banyak dibuat patung yang besar-besar,
berapi-api, mencolok mata melebihi bangunan candinya sendiri. Kita
ingat-patung Buddha besar di Afganistan, yang dihancurkan oleh
Taliban, tentunya dari segi ukuran, gigantik melebihi bangunan mana
pun. Menurut Holt, model gigantisme padahal sangat lebih
dimungkinkan dikerjakan di Jawa sebab kondisi alam vulkaniknya
sangat cocok. Holt menyetujui pendapat Poerbatjaraka ada kemungkinan
wiracarita Ramayana telah diterjemahkan tahun 898-90 ke dalam bahasa
Jawa kuno. Itu dipakai untuk panduan bagi pematung Indonesia. Holt
melihat, ada semacam pergulatan adaptasi perasaan Indonesia atas
teks dan bangunan.
Suatu gaya yang benar-benar bebas dari India, menurut Holt, muncul
pada candi-candi periode Jawa Timur. Ungkapan-ungkapan arsitektural
reliefnya sangat berbeda dengan candi Jawa Tengah. Masa itu
kesusastraan Jawa Kuna dan Kawi berkembang. Penelitian Zootmulder
dan Kuntara Wiryamartana membuktikan bagaimana kakawin Arjunawiwaha
Mpu Kanwa (1030) dan Bharatayudha Mpu Sedah (1157), atau puisi-puisi
panjang Smaradhana, Garudeya, dan Sudamala sangat dikenal saat itu.
Ada kemungkinan kakawin itu memiliki pengaruh pada penggambaran
relief.
Dari segi ornamentasinya, ciri relief di Jawa Timur adalah makin
kuatnya syle stilisasi. Tubuh manusia-seperti juga diamati Denys
Lombard-digarap dengan sangat khas: lengan sangat panjang. Itulah "gaya
wayang", yang setiap rincian memiliki nilai simbolis. Tubuh bukan
realis, melainkan suatu stereotip, arketip, yang mengacu pada suatu
klasifikasi perwatakan yang sangat rumit. Motif-motif alami juga
menjadi makin terstilisasi. Adegan Ramayana di relief Candi
Penataran misalnya sangat berbeda dengan adegan Ramayana di
Prambanan. Candi-candi di Jawa Timur memilih adegan yang menakutkan,
raksasa-raksasa dengan stilisasi lidah api. Juga arca-arca di Candi
Singasari. Masa Singasari boleh dibilang adalah masa puncak
perkembangan gaya seni arca. Di situ ada arca Prajnaparamita,
Agastya, Ganesha, dan Durga. Sesuatu yang familiar di India selatan.
Menurut Holt, arca durga Mahisasurmardini lebih ekspresif daripada
Durga Lara Jonggrang. Ganesha, yang kini menjadi lambang ITB itu,
juga lebih menakutkan dari Ganesha yang dipahami di India.
Marilah, untuk mendapat perbandingan yang jelas, kita sedikit masuk
soal Ganesha ini. Di India, arca Ganesha umumnya digambarkan
berkepala gajah, berbadan manusia, berkaki manusia, badannya gemuk,
perutnya buncit, taringnya patah sebelah. Tangannya empat. Tangan
kanan depan memegang taringnya yang patah, tangan kiri depan membawa
modaka, sejenis kue dalam sebuah mangkuk. Belalainya menjulur ke
dalam mangkuk ini. Adapun tangan kanan belakang membawa aksamala
atau tasbih. Rambutnya dihiasi dengan mahkota berupa jalinan rambut.
Secara umum, ciri-ciri itu sama dengan Ganesha Singosari. Namun,
yang berbeda adalah Ganesha Singasari: duduk di alas
tengkorak-tengkorak. Tengkorak juga menghias mahkota kerucut sang
gajah, membentuk hiasan telinganya, menjadi manik-manik
gelang-gelangnya. Holt melihat itu bagian dari estetika Bhiravais
yang dianut Kertanegara. Disertasi Edi Sedyawati, Pengarcaan Ganesa
Masa Kadiri dan Singasari, bisa mengukuhkan pendapat Holt. Menurut
Edi, asana berupa deretan tengkorak adalah ciri khusus ikonografik
Ganesha Jawa. Pengarcaan Ganesha di Kediri mengambil rujukan
kitab-kitab seperti Smaradahana, yang menurut Edy sejak dalam teks
memang terdapat "penyelewengan" tafsir dengan sumber aslinya.
Misalnya, soal asal-usul kepala gajah. Mengapa Ganesha berkepala
gajah? Aslinya, sumber India menceritakan bahwa kepala terpenggal
saat melawan Sywa. Sementara dalam versi lokal kakawin Smaradahana,
tidak terdapat unsur pemenggalan kepala demikian. Smaradahana
menyebutkan Ganesha bermuka gajah karena ibunya, Parwati waktu
mengandung terkejut melihat Airawata, gajah kendaraan Indra. Suatu
kadar penafsiran yang menurut Edi cukup tinggi.
Selain Penataran dan Singasari, menurut Holt, Candi Sukuh yang
terletak di kaki Gunung Lawu adalah candi yang penuh interpretasi
lokal. Sukuh didirikan tahun 1437, tahun surutnya Kerajaan Majapahit
dan menipisnya unsur-unsur kebudayaan Hindu. Sampai sekarang masih
terdapat ketidaksepakatan di antara ahli apakah Candi Sukuh ini
merupakan fenomena perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, atau merupakan
ekspresi klimaks sisa-sisa terakhir Hindu di Jawa. Apakah Sukuh,
kata Holt, ibarat gong Jawa di akhir lagu yang bergema mengakhiri
semua peninggalan Hindu sebelumnya?
Yang jelas candi mungil ini unik. Bentuknya piramida terpancung
mengingatkan kita pada bentuk candi suku Maya di Meksiko. Ini adalah
satu-satunya candi yang reliefnya menampilkan kisah Garudeya dan
Sudamala, cerita Sadewa membebaskan Dewi Uma. Ini juga satu-satunya
candi yang menampilkan lingga-yoni secara blak-blakan. Adakah
kaitannya dengan Singosari? Holt tak menjawab.
Untuk itu menarik misalnya membaca esai Stanley JO Connor,
Metallurgy and Immortality at Candi Sukuh, Central Java, atau esai
Nancy Dawling, The Javanization of Indian Art. Keduanya mengupas
salah satu relief Sukuh yang "aneh". Relief ini menggambarkan seekor
gajah menari, satu kakinya diangkat seakan kuda-kudanya tak imbang.
Tangan sang gajah ini membawa anjing kecil. Kelamin gajah ini
diekspos, lehernya mengenakan tasbih tulang.
Menurut Connor, relief gajah ini bercerita tentang tarian gajah
mabuk yang dikenal pada salah satu upacara Tantrik. Ia bersandar
pada tulisan Pigeaud yang menganalisis Negara-Kertagama. Dalam salah
satu bagian Negara Kertagama, Mpu Prapanca menceritakan bahwa
Kertanegara (1268-1292) pernah mengadakan ritual yang disebut
Ganacakra. Gana adalah nama lain Ganesha. Nah, Poerbatjaraka pada
tahun 1924 pernah menemukan perihal Ganacakra, dalam literatur
sejarah Budhisme di Tibet yang ditulis Taranatha. Disebutkan,
Taranatha adalah salah satu upacara Ganackra di Tibet,
pengekspresian Ganesha harus dengan membawa anjing, karena dia juga
raja anjing.
Connor dan Dawling selanjutnya menyebut sebuah pertunjukan yang pernah dilihat Stutterheim di Keraton Solo. Pada tahun 1932, Stutterheim menonton adegan dagelan, badut-badutan yang disebut cantang balang yang mengenakan lencana lambang phalus coitus vagina. Sembari menari, mereka menawarkan ledhek pada hadirin. Dalam salah satu adegan, mereka menarikan yang disebut "Gajah ngombe (minum)". Dengan membawa segelas arak di tangan kananya, mereka menirukan adegan-adegan anjing bila kasmaran. Connor dan Dawling memperkirakan, relief gajah mabuk di Sukuh ada hubungannya.