UNESCO 2003

Candi merupakan Monumen Budaya yang masih ada sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pola kehidupan masyarakat Jawa masa lalu. UNESCO sudah memasukan Candi sebagai warisan Budaya Dunia.

Artikel Candi

- Membaca Ulang Claire Holt
  

Artikel Candi

Membaca Ulang Claire Holt

Seno Joko Suyono

DI bulan Oktober tahun 1970, Ben Anderson menulis sebuah obituari yang menyentuh mengenang kepergian koleganya di Indonesian Modern Cornell Project, Claire Holt.

SAYA ingat, di suatu sore tahun 1968, saat saya baru pulang dari Indonesia, saya bercerita kepadanya tentang seorang sahabat kami berdua, seorang empu gamelan di Jawa, yang merasa hari kematiannya sudah dekat, kemudian berusaha menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang dicintainya: barang-barang pribadinya, keluarganya, musik di mana ia mengabdikan diri seumur hidupnya. Imajinasi Claire Holt tampak terserap jauh ke sahabat kami dari Jawa itu, membayangkan bagaimana dia menyiapkan diri menghadapi maut dan tiba-tiba Holt mengatakan bahwa dirinya juga mungkin bila saatnya tiba, akan juga berlaku seperti itu.

Kita tak tahu, apakah Holt menjelang ajalnya benar-benar menyiapkan diri- sumeleh ala kebajikan mistik Jawa itu. Claire Holt wafat tahun 1970. Ia meninggalkan "Art in Indonesia: Continuities and Change (1967)". Sebuah karya yang boleh dibilang magnum opus. Berbeda dengan peneliti lain, dia juga seorang fotografer, etnolog tari, arkeolog, pematung, sekaligus traveler. Minatnya yang luas itu, menurut hemat saya, sangat mempengaruhi caranya menulis.

Bukunya bukan jenis traktat akademis yang kaku, sistematik, kering. Tapi sebagaimana hatinya tergetar pada sikap temannya menyongsong elmaut tadi, ia menulis dengan empati yang dalam. Ia terlihat peka pada detail. Bila ia menerangkan relief balustrade candi misalnya, dengan rinci ia dapat memaparkan gaya, ornamen-ornamen flora, bentuk-bentuk pilaster, ceruk-ceruknya. Ia seakan mampu menangkap hal-hal kecil yang tak terlihat orang. Perbandingan atas hal satu dan lain kadang mengagetkan, melayangkan imajinasi .

Holt tinggal di Jawa dan Bali, di tahun 30an, saat era romantis bagi para peneliti bohemian, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Covarubias, Margaret Mead, Jaap Kunst, Th Pigeaud, Colin Mcphee, Mantle Hood. Minat awal Holt terhadap Indonesia seperti ditulisnya di majalah Indonesia No 6 (Oktober) 1968, dipicu oleh Robert Heine-Geldern, seorang antropolog yang memiliki data-data luas tentang kebudayaan perunggu di Jawa, kebudayaan megalitik di Nias yang bekerja di American Museum of Natural History di New York. Bersama dengannya dan Margaret Mead, Holt mendirikan the East Indies Institute of Amerika.

Holt selanjutnya menjadi asisten Wilhelm Stutterheim, peneliti Borobudur, Prambanan. Holt juga terlibat sebuah ekspedisi bersama seorang dokumentator asal Swedia, Rolf de Mare, pendiri Archives Internationales de la Danse di Paris, untuk perekaman tari-tarian Indonesia. Itu membuatnya ke penjuru pelosok Nusantara, membuat film dokumenter. Tim ini juga mengumpulkan lebih dua ratus sketsa, kostum tari, topeng, instrumen musik tari untuk koleksi museum.

Pada tahun 1939 koleksi ini dipamerkan. Tahun itu juga, Archives menerbitkan tulisan Holt: Dance Quest in Celebest. Dilengkapi lebih dari seratus foto. Karena Perang Dunia 2, Archives dipindahkan dari Paris ke Stockholm, Swedia. Dan, seluruh koleksi topeng, fotografi dan film yang dikerjakan oleh Holt itu konon sampai sekarang masih bisa dinikmati di Drottningholm Theater Libarary, Stockholm, Swedia. Catatan perjalanan Holt setelah ia wafat tahun 72-an diterbitkan di majalah Indonesia. Antara lain: Dances of Sumatra and Nias, Batak Dances, Dances of Minangkabau.

Fokus utama Art in Indonesia adalah melacak benang-benang utama kontinuitas, diskontinuitas, perubahan-perubahan gaya atau perasaan-perasaan dalam struktur sejarah seni di Indonesia. Dari masa prasejarah sampai seni Indonesia modern. Satu hal yang harus dipegang, proses dinamika sejarah kesenian Indonesia bagi Holt adalah semacam proses osmosis kebudayaan yang terus-menerus. Istilah osmosis itu juga digunakan oleh Denys Lombard, dalam karya monumentalnya: Nusa Jawa: Silang Budaya. Untuk kasus di Indonesia, demikian Lombard, kita tak bisa memakai perspektif dialektika dalam pengertian Hegelian. Karena di situ pasti ada unsur aufgehebung, kebudayaan pemenangnya. Yang terjadi dalam sejarah seni di sini adalah suatu proses saling perembesan kultur, bukan dialektika. Suatu kegiatan saling serap antara warisan-warisan lokal dan pengaruhnya, yang membuat terjadi mutasi terus-menerus, baik saat Indonesia masa kuno maupun Indonesia modern.

Tentu saja data-data Indonesia modern yang disajikan Holt hanya terbatas sampai tahun 1970. Namun, Holt bisa memberikan dasar bagaimana cara membaca mutasi itu. Adakah suatu pembaruan kesenian itu masih ada kesinambungan dengan yang lama atau sepenuhnya merupakan ketidaksinambungan? Di situlah saya kira letak penting Holt. Holt sendiri secara panjang lebar mendeskripsikan proses osmosis itu terjadi pada tiga tataran, yaitu arkeologi, tari, dan seni rupa.

Ganesha, sebuah contoh adaptasi

Untuk arkeologi dan tari, izinkan saya mula-mula mengutip ucapan Rabindranath Tagore yang datang ke Jawa dan Bali pada tahun 1927. Kedatangan Tagore itu atas usaha Noto Soeroto, penyair, cucu Pakualam V yang tinggal di Den Haag. Tagore, seperti disitir Holt setelah menonton berbagai pertunjukan tari di Jogja dan Bali, berkomentar demikian, "Saya melihat India di mana saja, tapi saya tak mengenalnya." Pendiri Shantiniketan itu dengan kata lain terpesona atas kemampuan adaptasi tinggi di Jawa dan Bali atas sumber-sumber India.

Tak syak memang ada suatu masa, kesenian kita mendapat pengaruh India yang kental. Candi-candi Jawa Tengah masa abad ke-8 sampai ke-10 adalah bukti itu. Holt menduga proses Hinduisasi berjalan pelan-pelan, kompleks dan tidak ajeg. Sampai kini belum ada evidensi arkeologis yang tergali begitu jauh untuk mengetahui evolusi lambat seni India di Jawa. Tiba-tiba sekonyong-konyong candi-candi itu ada, muncul dengan kekayaan yang mendadak. Semua arkeolog setuju bentuk-bentuk candi Jawa Tengah didesain mengikuti aturan yang berasal dari arsitektur kuil-kuil India Barat, terutama di daerah Nalanda. Ada pertalian dekat, kesamaan gaya, simbolisme, bentuk, rincian. Tapi, Holt menunjukkan, bagaimana sedemikian rupa Prambanan, Borobudur, dan Mendut mengalami modifikasi-modifikasi prinsipiil.

Terdapat ciri-ciri di candi-candi itu yang tidak ada di India. Salah satunya yang mencolok adalah patung-patung disusun dengan cermat ke dalam ceruk-ceruk, ruang-ruang yang dibagi-bagi secara simetris. Kita bisa melihat di Borobudur bagaimana figur manusia dimasukkan di dalam kerangka yang dibatasi oleh panel-panel. Proporsi-proporsi dipertahankan dalam keseimbangan, tanpa kontras yang keras dalam ukuran. Ornamen tak bakal mengungguli bangunan. Istilah Holt di situ, ketidakkeruan kontras yang bebas tidak diperkenankan.

Di India, sebaliknya, banyak dibuat patung yang besar-besar, berapi-api, mencolok mata melebihi bangunan candinya sendiri. Kita ingat-patung Buddha besar di Afganistan, yang dihancurkan oleh Taliban, tentunya dari segi ukuran, gigantik melebihi bangunan mana pun. Menurut Holt, model gigantisme padahal sangat lebih dimungkinkan dikerjakan di Jawa sebab kondisi alam vulkaniknya sangat cocok. Holt menyetujui pendapat Poerbatjaraka ada kemungkinan wiracarita Ramayana telah diterjemahkan tahun 898-90 ke dalam bahasa Jawa kuno. Itu dipakai untuk panduan bagi pematung Indonesia. Holt melihat, ada semacam pergulatan adaptasi perasaan Indonesia atas teks dan bangunan.

Suatu gaya yang benar-benar bebas dari India, menurut Holt, muncul pada candi-candi periode Jawa Timur. Ungkapan-ungkapan arsitektural reliefnya sangat berbeda dengan candi Jawa Tengah. Masa itu kesusastraan Jawa Kuna dan Kawi berkembang. Penelitian Zootmulder dan Kuntara Wiryamartana membuktikan bagaimana kakawin Arjunawiwaha Mpu Kanwa (1030) dan Bharatayudha Mpu Sedah (1157), atau puisi-puisi panjang Smaradhana, Garudeya, dan Sudamala sangat dikenal saat itu. Ada kemungkinan kakawin itu memiliki pengaruh pada penggambaran relief.

Dari segi ornamentasinya, ciri relief di Jawa Timur adalah makin kuatnya syle stilisasi. Tubuh manusia-seperti juga diamati Denys Lombard-digarap dengan sangat khas: lengan sangat panjang. Itulah "gaya wayang", yang setiap rincian memiliki nilai simbolis. Tubuh bukan realis, melainkan suatu stereotip, arketip, yang mengacu pada suatu klasifikasi perwatakan yang sangat rumit. Motif-motif alami juga menjadi makin terstilisasi. Adegan Ramayana di relief Candi Penataran misalnya sangat berbeda dengan adegan Ramayana di Prambanan. Candi-candi di Jawa Timur memilih adegan yang menakutkan, raksasa-raksasa dengan stilisasi lidah api. Juga arca-arca di Candi Singasari. Masa Singasari boleh dibilang adalah masa puncak perkembangan gaya seni arca. Di situ ada arca Prajnaparamita, Agastya, Ganesha, dan Durga. Sesuatu yang familiar di India selatan. Menurut Holt, arca durga Mahisasurmardini lebih ekspresif daripada Durga Lara Jonggrang. Ganesha, yang kini menjadi lambang ITB itu, juga lebih menakutkan dari Ganesha yang dipahami di India.

Marilah, untuk mendapat perbandingan yang jelas, kita sedikit masuk soal Ganesha ini. Di India, arca Ganesha umumnya digambarkan berkepala gajah, berbadan manusia, berkaki manusia, badannya gemuk, perutnya buncit, taringnya patah sebelah. Tangannya empat. Tangan kanan depan memegang taringnya yang patah, tangan kiri depan membawa modaka, sejenis kue dalam sebuah mangkuk. Belalainya menjulur ke dalam mangkuk ini. Adapun tangan kanan belakang membawa aksamala atau tasbih. Rambutnya dihiasi dengan mahkota berupa jalinan rambut.

Secara umum, ciri-ciri itu sama dengan Ganesha Singosari. Namun, yang berbeda adalah Ganesha Singasari: duduk di alas tengkorak-tengkorak. Tengkorak juga menghias mahkota kerucut sang gajah, membentuk hiasan telinganya, menjadi manik-manik gelang-gelangnya. Holt melihat itu bagian dari estetika Bhiravais yang dianut Kertanegara. Disertasi Edi Sedyawati, Pengarcaan Ganesa Masa Kadiri dan Singasari, bisa mengukuhkan pendapat Holt. Menurut Edi, asana berupa deretan tengkorak adalah ciri khusus ikonografik Ganesha Jawa. Pengarcaan Ganesha di Kediri mengambil rujukan kitab-kitab seperti Smaradahana, yang menurut Edy sejak dalam teks memang terdapat "penyelewengan" tafsir dengan sumber aslinya.

Misalnya, soal asal-usul kepala gajah. Mengapa Ganesha berkepala gajah? Aslinya, sumber India menceritakan bahwa kepala terpenggal saat melawan Sywa. Sementara dalam versi lokal kakawin Smaradahana, tidak terdapat unsur pemenggalan kepala demikian. Smaradahana menyebutkan Ganesha bermuka gajah karena ibunya, Parwati waktu mengandung terkejut melihat Airawata, gajah kendaraan Indra. Suatu kadar penafsiran yang menurut Edi cukup tinggi.

Selain Penataran dan Singasari, menurut Holt, Candi Sukuh yang terletak di kaki Gunung Lawu adalah candi yang penuh interpretasi lokal. Sukuh didirikan tahun 1437, tahun surutnya Kerajaan Majapahit dan menipisnya unsur-unsur kebudayaan Hindu. Sampai sekarang masih terdapat ketidaksepakatan di antara ahli apakah Candi Sukuh ini merupakan fenomena perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, atau merupakan ekspresi klimaks sisa-sisa terakhir Hindu di Jawa. Apakah Sukuh, kata Holt, ibarat gong Jawa di akhir lagu yang bergema mengakhiri semua peninggalan Hindu sebelumnya?

Yang jelas candi mungil ini unik. Bentuknya piramida terpancung mengingatkan kita pada bentuk candi suku Maya di Meksiko. Ini adalah satu-satunya candi yang reliefnya menampilkan kisah Garudeya dan Sudamala, cerita Sadewa membebaskan Dewi Uma. Ini juga satu-satunya candi yang menampilkan lingga-yoni secara blak-blakan. Adakah kaitannya dengan Singosari? Holt tak menjawab.

Untuk itu menarik misalnya membaca esai Stanley JO Connor, Metallurgy and Immortality at Candi Sukuh, Central Java, atau esai Nancy Dawling, The Javanization of Indian Art. Keduanya mengupas salah satu relief Sukuh yang "aneh". Relief ini menggambarkan seekor gajah menari, satu kakinya diangkat seakan kuda-kudanya tak imbang. Tangan sang gajah ini membawa anjing kecil. Kelamin gajah ini diekspos, lehernya mengenakan tasbih tulang.

Menurut Connor, relief gajah ini bercerita tentang tarian gajah mabuk yang dikenal pada salah satu upacara Tantrik. Ia bersandar pada tulisan Pigeaud yang menganalisis Negara-Kertagama. Dalam salah satu bagian Negara Kertagama, Mpu Prapanca menceritakan bahwa Kertanegara (1268-1292) pernah mengadakan ritual yang disebut Ganacakra. Gana adalah nama lain Ganesha. Nah, Poerbatjaraka pada tahun 1924 pernah menemukan perihal Ganacakra, dalam literatur sejarah Budhisme di Tibet yang ditulis Taranatha. Disebutkan, Taranatha adalah salah satu upacara Ganackra di Tibet, pengekspresian Ganesha harus dengan membawa anjing, karena dia juga raja anjing.

Connor dan Dawling selanjutnya menyebut sebuah pertunjukan yang pernah dilihat Stutterheim di Keraton Solo. Pada tahun 1932, Stutterheim menonton adegan dagelan, badut-badutan yang disebut cantang balang yang mengenakan lencana lambang phalus coitus vagina. Sembari menari, mereka menawarkan ledhek pada hadirin. Dalam salah satu adegan, mereka menarikan yang disebut "Gajah ngombe (minum)". Dengan membawa segelas arak di tangan kananya, mereka menirukan adegan-adegan anjing bila kasmaran. Connor dan Dawling memperkirakan, relief gajah mabuk di Sukuh ada hubungannya.